“Tapi dia memang tidak bisa berbuat apa-apa, seluruh hidupnya hanya dihabiskan diatas tempat tidur, apa anda tidak bisa memaklumi?”
“Maaf ibu, dia sudah hampir 5 bulan tidak berangkat sekolah. Kami harus mengembalikan Ali kepada keluarganya, kepada ibu”
Aku sudah tidak mau mendengar apa yang mereka bicarakan, aku sudah tahu apa inti dari pembicaraan mereka. Aku menatap kakiku yang lumpuh, air mata sudah tidak terbendung lagi. Aku sedang meratapi takdir. Seandainya saja waktu itu aku bisa lebih hati-hati menyeberang jalan. Pasti semua tidak akan terjadi.
Pagi itu sudah tidak ada harapan, aku putus sekolah. Seperti biasa pagi itu, makan sudah ada dimeja sebelah kasurku.
Ibu adalah satu-satunya harta paling berharga yang aku miliki saat ini. Jika tidak ada ibu entah bagaimana aku ini, yang hanya bisa berbaring seharian diatas kasur dan sesekali duduk karena punggungku kepanasan. aku tidak bisa membalas budi ibuku, aku bangga memiliki ibu yang berusaha keras bekerja keras hanya untuk aku.
Dimalam hari aku terbangun dari tempat tidurku, ternyata ibuku demam. Aku memanggil ibu, dan ternyata memang benar, ibu sedang sakit,”Bu, kalau memang ibu sakit jangan memaksakan diri hanya untuk hal yang sepele, yaitu memperhatikan aku”. Aku ikut sedih melihat ibu yang setiap hari mengurusku. “ Ibu tidak apa-apa, hanya demam biasa nanti juga akan sembuh”. Aku tidak menyangka, walaupun sakit dia tetap mengurusku.
Seperti biasa aku menghabisakan waktuku di kasur, terlihat ibu sedang berbincang dengan tetangga sebelah, “Mbak, anakmu itu dibawa ke rumah sakit saja dioperasi atau diganti dengan kaki palsu!”
“ Ali tidak mau dioperasi, katanya takut kalu sampai terjadi sesuatu, lagi pula biaya operasi itu tidak murah, lain kali saja kalu Ali mau”
“Kalau tidak segera dibawa ke rumah sakit malah nyusahin sampean tho, mbak, di rumah sakit kan ada ASKES?”
Aku duduk terdiam mendengar pembicaraan tersebut dan berpikir bagaimana rasanya bila aku dioperasi. Aku takut sekali untuk dioperasi, tapi kalau tidak...aku tidak bisa sekolah, membantu ibu, membalas budi...!
Ibu pergi berbelanja ke pasar, aku di rumah sendiri dengan makanan yang sudah disediakan ibu tadi pagi, aku terus menugnggu ibu pulang, lam kemudian terdengar suara mobil di depan rumah.
“Bu? Apakah itu ibu?” aku memanggil ibu. “ iya, nak. Ibu pulang dan lihat apa yang ibu bawa untuk kamu.”
Air mataku begitu saja keluar dari mataku, rasa bahagia yang pernah kurasakan, ibu membawakan aku sebuah Netbook dan sekaligus Modemnya, aku bangga sekali.
Hari – hariku menjadi menyenangkan dengan netbook yang ibu belikan kemarin, seharian penuh aku belajar membuat puisi, cerpen, pantun, teka-teki, dan lain sebagainya.
Suatu hari aku diberitahu ibu kalau ada lomba menulis cerpen se kecamatan, “ibu dengar ada perlombaan menulis cerpen sekecamatan, kamu bisa ikut, nak.” Aku menyangkal,” tapi aku kan tidak bisa berjalan, Bu. Bagaimana caranya aku bisa ikut?”
“bisa, disana tertulis lombanya bisa tidak langsung melainkan bisa lewat internet, ini alamat blognya. Kamu kan sering membuat cerpen. Oh,ya ada hadiahnya juga yang masuk 3 besar akan diberi masing-masing uang yang setara dengan juaranya.”
Mungkin dengan cara ini aku bisa maju, aku harus ikut lomba itu, kalau menang kan lumayan bisa membantu ibu dan meringankan biaya ibu sehari – hari.
Setiap hari aku mencoba membuat cerpen yang akan aku kirimkan, ibu juga membelikan buku novel, puisi dan sastra untuk membantuku belajar.
3 hari sebelum lomba dimulai aku sudah mengirimkan karya tulisku, semoga saja aku menang. Aku terus berdo’a agar aku bisa menang, ibu juga berdo’a untukku dan keluarga kami.
Hari berganti demi hari, saat sudah hampir satu minggu seseorang mendatangi rumah kami, dengan jas hitam dan sepatu mengkilap serta sebuah koper yang kulihat lewat jendela kamarku.
“permisi, ada orang di rumah?” aku takut sekali dugaanku dia adalah penagih hutang, ibu mulai menghampiri pria itu, “iya, ada keperluan apa anda kemari,pak?”
“begini,bu. Saya disini untuk memberi hadiah untuk anda karena cerpen yang anda kirim berhasil meraih juara 2 sekecamatan pada lomba yang lalu” sujud syukur aku dan ibuku panjatkan kepada Allah.
“terima kasih,pak. Tapi apakah ini benar? Anak saya menang lomba itu?” ibu sangat bahagia sekali sampai tidak percaya kalau cerpenku menang.
“benar, anak ibu telah menang, ini kan alamat anak ibu? Dan ini hadiahnya, bila tidak keberatan anak ibu akan kami ikutkan dalam perlombaan ke tingkat provinsi, bagaimana?”
“sebentar,pak. Saya tanya dulu anaknya mau apa tidak?” ibu menghampiriku dan bertanya,”Ali, apakah kamu mau ikut lomba lagi di tingkat provinsi?” tanpa berpikir panjang aku menerima tawaran itu,”iya,bu. Ali ingin ikut” rasa senang mengiringiku.
“iya,pak. Anak saya setuju , kapan akan diadakan lombanya? Dan bagaiman anak saya bisa ikut dalam lomba itu, kami tidak punya transportasi apapun lagi pula anak saya lumpuh.”
“tenang,bu. Kami akan berusaha menghubungi pihak pusat dan seperti biasa bisa lewat internet.”
“terimakasih banyak, pak.”
“sama – sama, bu. Oh ya, tolong bilang ke anak ibu supaya untuk mengisi kontrak ini, demi kelancaran kegiatan anak anda.”
Saat aku sudah menang dalam perlombaan itu, aku meminta ibu untuk membawaku ke rumah sakit untuk operasi, walaupun aku takut tapi kucoba untuk memberanikan diri agar aku bisa sekolah dan bermain bersama teman – teman.
Kemudian sampailah aku di rumah sakit, ibupun bilang kepada dokter spesialis, dan aku dibawa langsung ke ruang operasi, saat kumasuki ruangan tersebut keringat dinginku keluar begitu saja air mataku juga keluar menetes seperti embun pagi di kakiku...
Rasa takut membayangiku tapi aku tetap tegar dan pantang mundur, ibu menunggu di luar ruangan sambil berdo’a agar aku bisa menjalankan operasi itu dengan lancar.
Saat bius yang diberikan dokter masuk ke tubuhku aku merasa lemas tak berdaya bagai daun jatuh dan dihempas angin semilir, kurasakan sedikit sentuhan pisau yang membelah kulitku, setelah itu aku tak merasakan apa – apa, mungkin sudah berada di alam mimpi.
Tiga jam berlalu aku sudah bisa merasakan kakiku lagi, dan kulihat kakiku terbalut perban yang tebal, lalu aku dibawa keluar oleh suster dan bertemu ibu lagi.
Setelah beberapa hari menginap di rumah sakit kamipun pulang ke rumah, dan kulihat wajah ibu yang sangat gembira, tersenyum padaku pertanda bangga. Siang itu, aku mencoba berjalan dengan tongkatku, langkah demi langkah aku jalani, rasa sakit ku hadapi.
Teimakasih Tuhan, Engkau telah memberikan harta yang paling berharga dari semua yaitu kesehatan, akupun mulai bersekolah dan bermain bersama teman – temanku. Sekali lagi terimakasih ibu, tanpamu aku tak bisa apa – apa.


